BLORA, (blora-ekspres.com) – Sarasehan dan Jamasan Pusaka berlangsung istimewa dengan kehadiran diaspora Indonesia dari Australi. Kehadiran diaspora tersebut menjadi daya tarik tersendiri yang mempertemukan para pecinta pusaka untuk memperkuat pelestarian warisan budaya dan kearifan lokal di Pendopo Rumah Dinas Bupati Blora, Minggu (12/07/2026).
Melalui unggahan di akun Instagram, Bupati Blora, Arief Rohman, kehadiran Sudarmanto Antok bersama istrinya, Jess Dunn yang tengah pulang kampung dari Australia menambah semarak kegiatan yang juga diikuti Lembaga Pelestari Budaya Tosan Aji Blora dan Sekretariat Nasional Keris Indonesia (SNKI) Jawa Tengah.
Bupati Blora, Arief Rohman mengapresiasi antusiasme para peserta yang terus berkomitmen menjaga dan melestarikan warisan budaya, khususnya pusaka dan tosan aji yang menjadi bagian dari identitas bangsa.
“Kami mengapresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang terus konsisten nguri-uri budaya Blora. Mari bersama-sama melestarikan mahakarya bangsa agar tetap lestari dan dikenal oleh generasi mendatang,” ujar Mas Arief, sapaan akrab Bupati Blora.
Menurut Mas Arief, Sarasehan dan Jamasan Pusaka bukan sekadar tradisi membersihkan pusaka, tetapi juga menjadi ruang edukasi untuk memperkuat pemahaman masyarakat terhadap nilai sejarah, filosofi, dan kearifan lokal yang terkandung dalam setiap warisan budaya.
Mas Arief menilai, kehadiran diaspora Indonesia dari Australia menunjukkan bahwa kecintaan terhadap budaya Blora tidak mengenal batas wilayah maupun negara. Hal itu menjadi bukti bahwa budaya daerah tetap mampu menghubungkan masyarakat Indonesia di mana pun berada.
“Warisan budaya harus terus dirawat dan dikenalkan kepada generasi penerus. Kehadiran diaspora Indonesia dari Australia dalam kegiatan ini menjadi bukti bahwa kecintaan terhadap budaya Blora tetap hidup dan melintasi batas negara,” tegas Mas Arief.
Mas Arief berharap kegiatan serupa terus digelar secara berkelanjutan sebagai upaya memperkuat pelestarian budaya sekaligus memperkenalkan kekayaan tradisi Blora kepada masyarakat yang lebih luas, termasuk generasi muda.
Sementara itu, diaspora asal Blora yang kini menetap di Australia, Sudarmanto Antok, mengaku sengaja menyempatkan hadir bersama istrinya dalam kegiatan tersebut karena ingin tetap menjaga ikatan dengan budaya dan kampung halaman.
“Meski tinggal di Australia, saya tetap bangga menjadi bagian dari Blora. Pulang kampung dan bisa mengikuti Sarasehan serta Jamasan Pusaka menjadi kesempatan berharga untuk melepas rindu sekaligus belajar kembali tentang warisan budaya yang harus kita jaga bersama,” ujar Sudarmanto.
Ia berharap kegiatan pelestarian budaya seperti ini terus dilaksanakan secara rutin dan melibatkan generasi muda agar nilai-nilai budaya tidak tergerus perkembangan zaman.
Menurutnya, budaya merupakan identitas yang tidak boleh hilang, bahkan justru harus diperkenalkan kepada masyarakat internasional sebagai kekayaan Indonesia.
“Pelestarian budaya tidak boleh berhenti pada satu generasi. Anak-anak muda harus dilibatkan agar warisan leluhur tetap hidup dan menjadi kebanggaan Indonesia di mata dunia,” pungkasnya.
Melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, komunitas budaya, dan masyarakat, Pemerintah Kabupaten Blora berkomitmen terus mendukung berbagai kegiatan pelestarian budaya sebagai bagian dari upaya menjaga warisan leluhur sekaligus memperkuat identitas budaya daerah.***











