Adanya Penemuan Obat Covid-19 di Blora, Dinkas Sarankan Uji Klinis dan Uji Lab

BLORA, (blora-ekspres.com) – Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinkes Blora, Edi Widayat menjelaskan terkait penemuan obat yang dibuat oleh warga Blora yang sempat diberitakan akhir-akhir ini.

Menurutnya, obat tersebut harus mendapatkan persetujuan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Sebab, pihaknya tidak memiliki wewenang untuk memberikan izin terkait obat.

“Untuk obat-obatan, bukan wewenang kami, tapi wewenangnya adalah Balai POM, bukan di Dinas Kesehatan Kabupaten Blora,”ucap Edi saat ditemui di kantornya, Rabu (14/07/2021).

Sementara itu, Staf Kefarmasian dan Alat Kesehatan (Farmalkes) Dinkes Blora, Ari Wibowo menyarankan agar obat ataupun formula yang ditemukan harus diuji klinis dari pihak yang berwenang.

“Kalau tanggapan dari dinas, ya kami merasa bangga juga karena ada masyarakat yang peduli mau menemukan bahan atau formula untuk membantu pasien covid, tapi kalau untuk membuktikannya harus diuji klinis dan uji lab dulu, tidak bisa testimoni atau melalui google atau YouTube. Jadi harus diuji klinis di lembaga uji yang terakreditasi,” jelasnya.

Menurutnya, perizinan obat yang mengandung khasiat merupakan wewenang dari BPOM. Sehingga dirinya menyarankan agar obat tersebut dapat dikirim ke BPOM untuk membuktikan khasiatnya.

Ari Wibowo, Staf Kefarmasian dan Alat Kesehatan Dinkes Blora

Sebelumnya, Pria asal Blora, Jawa Tengah, Kurniawan Yunarto mengklaim telah menemukan obat anti Corona. obat temuannya tersebut diberi nama AVVR 19.

“Awal mulanya ibu sakit kena corona, jadi saya terpaksa harus merawat ibu karena jatah untuk di rumah sakit sudah selesai, dan ibu dikeluarkan dalam kondisi masih positif dan sakit dengan saturasi 73 dan itu happy hypoxia dan saya harus secepatnya merawat ibu, sehingga saya berpikir bagaimana membuat obat untuk ibu,” ucap Kurniawan saat ditemui di kediamannya, Blora, Senin (12/07/2021).

Menurutnya, organ paru-paru manusia merupakan organ vital yang diserang oleh virus corona. Makanya, harus ada cara yang mampu mengobati paru-paru agar terhindar dari virus tersebut.

Kurniawan menambahkan sampai saat ini apabila seseorang sakit kemungkinan besar akan diberikan dosis minum dan dosis suntik, Padahal, kata Kurniawan ada cara lain yang dilakukan untuk mengobati organ yang sakit tanpa harus menggunakan dosis minum dan dosis suntik.

“Akhirnya saya membuat obat ini dengan literatur dari WHO dan dari kesehatan yang saya pelajari,” katanya.

Kurniawan juga mengaku selama kurang lebih lima hari mempraktekkan obat tersebut kepada ibunya, ada perubahan lebih baik yang dirasakan oleh ibunya.

“Dari positif, lima hari kemudian saya bawa ke RS Tlogosari Semarang ditest PCR hasilnya negatif. Kalau untuk saturasi dari 73 menjadi 93. Ahirnya ibu sembuh dan sekarang sudah berjualan di pasar lagi meskipun sudah berumur 73 tahun,”ujarnya.

Dirinya menjelaskan komposisi yang terkandung dalam obat berbentuk cair tersebut.

“Komposisi ini lebih banyak ke pemakaian minyak Atsiri sebagai pembunuh kuman, sebagai anti jamur, juga sebagai pelembab pada paru-paru. selain minyak Atsiri juga ada anti peradangan, anti bakteri dan vitamin,” terangnya.

Sedangkan untuk cara pemakaiannya, obat tersebut diletakkan di regulator oksigen sebagai pengganti air.

“Kalau untuk pemakaian menggunakan AVVR ini, jadi air regulator, diganti dengan AVVR ini selama 20 menit untuk 6 jam” jelasnya.

Menurutnya, selama kurang lebih tujuh bulan membuat obat tersebut hampir tidak ada efek samping yang dirasakan oleh sejumlah orang menggunakan obat anti corona ini.

“Beberapa orang yang sudah memakai testimoninya, tiga sampai tujuh hari sudah pada sembuh,”katanya.

Selain untuk mencegah corona, obat ini diklaim juga mampu mengobati sejumlah penyakit lainnya.

“Selain mencegah corona, sebenarnya obat ini juga membantu memberikan vitamin pada saluran paru-paru, juga merawat saluran pernapasan kita, karena kita tidak tahu bagaimana merawatnya, ya cara merawatnya dengan terapi setiap hari, obat ini juga ada jangka waktunya karena pakai minyak Atsiri, sehingga pemakaian dua bulan sudah harus ganti yang baru,”imbuhnya.

Hingga saat ini, pria berusia 42 tahun tersebut tidak memperjualbelikan obat tersebut. Sebab, masih ada sejumlah kendala yang dihadapinya ketika harus berurusan dengan uji klinis.

“Karena saya sudah mengurus hak paten dan sebagainya, tapi ada suatu kendala yang harus saya hadapi. Jadi sementara tidak saya jual tapi saya bagikan ke teman-teman. Testimoni teman-teman banyak yang sembuh,”katanya.***Red

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *