Example floating
Example floating
Example floating
Peristiwa

Blora Darurat Kekeringan, BPBD Antisipasi Krisis Air Hingga 2024

×

Blora Darurat Kekeringan, BPBD Antisipasi Krisis Air Hingga 2024

Sebarkan artikel ini

BLORA, (blora-ekspres.com) – Kekeringan melanda hampir seluruh wilayah Kabupaten Blora, memaksa otoritas setempat mengambil tindakan darurat. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Blora, Komang Gede Irawadi, menyatakan bahwa daerah ini saat ini berada dalam tingkat darurat kekeringan.

“Blora menghadapi kekeringan darurat selama musim kemarau yang panjang. Prediksi ini akan berlanjut hingga November, bahkan ada kekhawatiran kekeringan bisa berlanjut hingga Februari 2024,” ujar Komang Gede Irawadi dalam wawancara dengan media ini, Kamis (27/09/2023).

Kondisi kekeringan telah melanda wilayah Blora sejak Juli hingga September 2023. Seluruh kecamatan di Blora mengalami kekeringan, kecuali Kecamatan Kradenan dan Todanan yang masih memiliki pasokan air yang mencukupi.

BPBD telah berkoordinasi secara rutin dengan Bupati Blora untuk mengatasi situasi ini. Awalnya, mereka mengusulkan status darurat kekeringan untuk 125 desa, namun dengan semakin buruknya cuaca, jumlah desa darurat bertambah menjadi 185.

“Sebanyak 14 kecamatan terdampak kekeringan. Kecamatan Kradenan dan Todanan adalah pengecualian karena masih memiliki sumber air yang mencukupi. Awalnya, kami mengusulkan 124 desa sebagai desa darurat, namun seiring waktu, jumlahnya bertambah menjadi 185 desa,” jelasnya.

Menurut prakiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Blora diharapkan mulai mendapatkan hujan kembali pada bulan November. Meskipun begitu, pihak berwenang tetap waspada menghadapi risiko kekeringan hingga akhir tahun.

“Kita tidak bisa memprediksi cuaca sepenuhnya. Masa pancaroba bisa membawa hujan atau tidak. Kami akan tetap siaga hingga akhir tahun,” tambahnya.

Untuk mengatasi dampak kekeringan, pihak BPBD telah bekerja sama dengan CSR, lembaga, komunitas, dan dunia usaha untuk menyediakan pasokan air bersih di wilayah yang terkena dampak. Sebanyak 1337 tangki air atau setara dengan 6.685.000 liter air telah didistribusikan ke 185 desa di 14 kecamatan, dengan 424.831 penerima manfaat yang mewakili 30.265 kepala keluarga.

“Total 1337 truk tangki air telah berhasil disalurkan. Tahun ini, kami mengalokasikan anggaran sebesar Rp75 juta untuk mengatasi masalah kekeringan ini,” ungkapnya.

Komang Gede Irawadi berharap Blora dapat mengatasi tantangan ini. Dampak kekeringan telah dirasakan oleh warga, dan ia juga mengimbau masyarakat untuk menjaga keamanan dan ketertiban serta berhati-hati untuk mencegah kebakaran akibat kekeringan.

“Dampak kekeringan dapat menyebabkan kebakaran jika masyarakat tidak berhati-hati. Kami akan terus melakukan sosialisasi agar tidak ada pembakaran sampah sembarangan dan pembuangan puntung rokok sembarangan. Semoga kita bisa melewati masa sulit ini dengan baik,” harapnya***

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *