BLORA, (blora-ekspree.com) – Di tengah padatnya pemukiman di pusat Kota Blora, seorang warga Kelurahan Jepon, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora berhasil memanfaatkan lahan kosong yang tidak produktif menjadi area pertanian modern.
Bambang Suharto, bersama anaknya, membudidayakan buah melon dengan sistem hidroponik dan metode greenhouse di lahan seluas 5.000 meter persegi.
Lokasinya terbilang unik dan strategis, berada di jantung Kota Blora, tepatnya di Jalan A. Yani atau di depan Kantor Kejaksaan Negeri Blora. Di atas lahan tersebut, berdiri enam kotak greenhouse yang tertata rapi, berisi deretan tanaman melon yang tumbuh subur.
Bambang menceritakan, ide menanam melon bermula dari gagasan anaknya yang melihat potensi lahan kosong tersebut untuk dijadikan kebun buah.
“Awalnya ini lahan nganggur, sayang kalau tidak dimanfaatkan. Anak saya memberi ide untuk menanam buah, dan kami pilih melon karena sesuai minat pasar serta cocok untuk dibudidayakan di sini,” ujarnya, Jumat (08/08/2025).
Menurutnya, kondisi lahan yang berada di area terbuka sangat mendukung pertumbuhan tanaman, karena tidak ada pepohonan besar di sekelilingnya yang menghalangi sinar matahari.
“Sinar matahari bisa langsung masuk, itu penting untuk pertumbuhan melon,” tambahnya.
Pemilihan sistem hidroponik dilakukan bukan tanpa alasan. Selain hemat air, metode ini dianggap lebih bisa diandalkan dalam menjaga produktivitas dan kualitas hasil panen.
“Dengan hidroponik, kita bisa mengontrol nutrisi, hama, dan penyakit lebih mudah. Hasilnya juga lebih maksimal,” jelas Bambang.
Bambang memilih jenis melon yang diminati konsumen, mempertimbangkan produktivitas dan tantangan hama penyakitnya. Ia menambahkan, Blora sebagai daerah yang dijuluki akronim “Buah Nusantara” memiliki potensi besar untuk pengembangan buah-buahan, termasuk melon premium.
Selain memberi manfaat ekonomi, Bambang mengaku budidaya ini juga menjadi bentuk penghijauan di tengah kota yang kini kian padat perumahan.
“Saya memang suka menanam buah-buahan. Sekalian menambah ruang hijau di kota, biar tidak semuanya beton,” katanya.
Ketika ditanya mengenai peluang kebunnya dijadikan agrowisata, Bambang mengaku tidak menutup kemungkinan.
“Kalau soal agrowisata, saya ikut alur saja. Kalau nanti ada yang berminat datang atau belajar, ya silakan. Tapi fokus utama saya sekarang tetap di produksi,” pungkasnya.***











