Berita

Susu Pecah Diduga Picu Keluhan, SPPG Bogowanti Tunggu Hasil Laboratorium

×

Susu Pecah Diduga Picu Keluhan, SPPG Bogowanti Tunggu Hasil Laboratorium

Sebarkan artikel ini

BLORA, (blora-ekspres.com) – Pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bogowanti bersama SDN 1 Sendangrejo, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Blora, memberikan klarifikasi terkait insiden 19 siswa yang mengalami mual dan sakit perut setelah menyantap menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Mereka memastikan seluruh siswa yang sempat mengalami keluhan kini berangsur pulih dan telah kembali beraktivitas seperti biasa.

Guru SDN 1 Sendangrejo, Ahmad Fatoni, mengatakan sehari setelah kejadian masih ada enam siswa yang belum masuk sekolah. Menurutnya, kondisi tersebut diduga dipengaruhi rasa trauma dan kekhawatiran dari orang tua.

“Enam siswa tidak masuk sehari setelah kejadian. Mungkin masih trauma, tetapi kondisi mereka sudah stabil. Pada hari Rabu seluruh siswa sudah kembali mengikuti kegiatan belajar di sekolah,” ujar Fatoni saat ditemui di SDN 1 Sendangrejo, Rabu (29/07/2026).

Pihak sekolah bersama tim SPPG juga mendatangi rumah keenam siswa tersebut untuk memastikan kondisi kesehatan mereka sekaligus memberikan pendampingan kepada keluarga.

Fatoni menegaskan, dari total 141 siswa di SDN 1 Sendangrejo, hanya 19 siswa yang mengalami keluhan setelah mengonsumsi menu MBG.

“Banyak siswa yang meminum susu, tetapi yang terdampak hanya 19 anak. Sekolah tentu tidak pernah mengharapkan kejadian seperti ini,” katanya.

Ia menjelaskan, setelah upacara bendera, makanan dibagikan seperti biasa. Tak lama kemudian, seorang siswa bernama Muhammad Ardian Pratama mengeluhkan sakit perut. Setelah dilakukan pemeriksaan, ditemukan satu kotak makan (ompreng) dengan susu dalam kondisi pecah dan mengeluarkan bau menyengat.

“Ardi mengeluh sakit perut, kemudian ada temannya yang menemukan ompreng dengan bau tidak sedap karena susunya pecah di dalam. Setelah itu kami langsung membawa Ardi ke puskesmas, lalu menyusul siswa lain yang mengeluhkan mual,” jelasnya.

Sebagai langkah antisipasi, seluruh makanan yang telah dibagikan langsung ditarik kembali oleh pihak sekolah.

Guru SDN 1 Sendangrejo lainnya, Nova Dwi Lisdyanto, menambahkan sebagian besar siswa hanya mengalami gejala ringan berupa mual dan sakit perut. Beberapa siswa bahkan baru mengalami muntah setelah tiba di Puskesmas Ngawen.

“Di sekolah hanya ada satu anak yang muntah hingga tiga kali, sedangkan yang lain hanya mengeluh mual. Ada juga yang baru muntah setelah sampai di puskesmas,” ujarnya.

Nova menjelaskan, 19 siswa yang mengalami keluhan terdiri atas delapan siswa kelas V, tujuh siswa kelas IV, tiga siswa kelas III, dan satu siswa kelas VI.

Ia juga mengungkapkan bahwa Muhammad Ardian Pratama sebelumnya memang sempat mengalami demam ringan dan kondisi tubuhnya belum sepenuhnya pulih.

“Ardi memang sudah kurang sehat beberapa hari sebelumnya. Saat itu kondisinya membaik, tetapi belum benar-benar pulih,” katanya.

Menurut Nova, bau menyengat hanya ditemukan pada susu yang pecah di salah satu ompreng, sedangkan makanan dan minuman lainnya dalam kondisi baik.

“Yang berbau hanya susu yang pecah. Makanan lainnya dalam kondisi normal,” ungkapnya.

Nova bahkan mengaku ikut mengonsumsi menu MBG pada hari itu. Ia menghabiskan seluruh makanan dan baru meminum susu setelah pulang dari puskesmas.

“Saya makan sampai habis. Susunya saya minum setelah pulang dari puskesmas karena penasaran, rasanya normal. Keesokan harinya saya juga minum susu lagi dan tidak ada masalah,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala SPPG Bogowanti, Putri Novitasari, mengatakan pihaknya langsung bergerak cepat setelah menerima laporan dari sekolah. Selain menarik seluruh makanan yang telah didistribusikan, tim SPPG juga mengunjungi rumah para siswa yang sempat menjalani perawatan.

“Kami mendatangi rumah siswa yang sebelumnya dibawa ke puskesmas untuk memastikan kondisi mereka baik-baik saja sekaligus menyampaikan permohonan maaf kepada siswa dan orang tua. Alhamdulillah, saat kami datang kondisi mereka sudah membaik dan dapat beraktivitas seperti biasa,” kata Putri.

Menurutnya, langkah tersebut merupakan bentuk tanggung jawab SPPG sambil menunggu hasil investigasi dan uji laboratorium terhadap sampel makanan yang dilakukan Dinas Kesehatan.

Sebelumnya, operasional SPPG Bogowanti dihentikan sementara oleh Badan Gizi Nasional (BGN) menyusul dugaan keracunan yang dialami 19 siswa SDN 1 Sendangrejo pada Senin (20/7/2026). Dugaan awal mengarah pada susu UHT yang ditemukan pecah di salah satu kemasan, sementara penyebab pasti kejadian tersebut masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.***