BLORA, (blora-ekspres.com) – Perjuangan panjang Desa Sidorejo, Kecamatan Kedungtuban, Kabupaten Blora, dalam mengembangkan pertanian organik selama enam tahun akhirnya berbuah manis. Kini, desa tersebut memiliki 30 hektare sawah organik yang menjadi percontohan terbesar di Blora, mengungguli desa-desa lainnya.
Kepala Desa Sidorejo, Agung Heri Susanto, menceritakan bahwa kesadaran beralih ke pertanian organik berawal dari kegagalan panen yang berulang akibat penggunaan pupuk kimia dan pestisida secara berlebihan. Kondisi tanah yang sejak 1980 ditanami padi tiga kali setahun, semakin terpuruk karena pemupukan yang jauh melampaui standar.
“Standarnya, satu hektare cukup 3,5 kuintal pupuk kimia. Tapi di sini sampai 5 kuintal bahkan ada yang 1 ton per hektare,” ujar Agung Heri.
Agung Heri menghitung, kebiasaan itu telah berlangsung sejak 1990 hingga 2020 atau sekitar 30 tahun.
“Kalau dikalkulasi, setiap hektare lahan sudah terkontaminasi 90 ton pupuk kimia. Dampaknya hasil panen menurun, tanah jadi capek, bahkan pernah sama sekali tidak panen. Residu pupuk kimia ini merusak. Akhirnya kami mencari solusi agar tanah kembali normal dan pertanian bisa memberi penghasilan layak,” papar Agung Heri.
Langkah penyelamatan pun dimulai dengan berkoordinasi bersama dinas pertanian, NGO, akademisi, hingga berbagai pihak lainnya.
“Solusi yang paling tepat adalah kembali ke alam, kembali ke organik,” tegas Agung Heri.
Tahapan awal dilakukan melalui edukasi dan diskusi untuk memberikan pemahaman kepada warga, lalu dilanjutkan dengan demonstrasi lapangan. Dengan pendampingan tenaga ahli, para petani belajar mengembalikan kesuburan tanah dan mengelola lahan secara alami.
“Sekarang kami bisa memproduksi kompos dan pupuk organik sendiri, benar-benar nol kimia. Satu genggam pun tidak ada pupuk dan pestisida kimia,” ucap Agung Heri.
Pestisida organik pun diracik dari mikroorganisme lokal, memanfaatkan bahan-bahan alami seperti rebung, bonggol pisang, mahoni, dan tanaman pahit lainnya.
“Didampingi tenaga ahli, warga membuat pestisida hayati secara mandiri,” tambah Agung Heri.
Untuk memperkuat gerakan ini, Desa Sidorejo membentuk kelompok pertanian organik bernama Jemari Agung, yang memproduksi pupuk organik cair, kompos, hingga pestisida hayati.
“Alhamdulillah, hasil panen membaik, tanah kembali sehat, dan petani bisa menikmati hasilnya,” kata Agung Heri.
Namun, Agung Heri mengakui, di awal tidak mudah meyakinkan petani.
“Bertani organik itu tidak instan. Harus meramu sendiri, beda dengan beli pupuk jadi. Tapi secara ekonomis jauh lebih menguntungkan karena bahan ada di sekitar kita,” jelas Agung Heri.
Sebagai bukti, pemerintah desa memulai dengan membuat demplot seluas 3 hektare. Bahkan, kebijakan khusus diterapkan: perangkat desa diwajibkan menggarap tanah bengkok mereka secara organik.
“Perangkat desa jadi motor penggerak. Masing-masing minimal setengah sampai satu hektare harus organik,” ungkap Agung Heri.
Kini, beras organik produksi Desa Sidorejo telah menembus pasar lokal hingga ke Jakarta, Palembang, dan sejumlah daerah di luar Jawa.
“Jenisnya beragam, ada mentik susu, cierang, hingga beras merah. Pembeli bisa memilih sesuai selera,” pungkas Agung Heri.***











