BeritaPEMERINTAHAN

Petani Tebu Blora Tunggu Respons Bulog, Bupati Ikut Kawal

×

Petani Tebu Blora Tunggu Respons Bulog, Bupati Ikut Kawal

Sebarkan artikel ini

BLORA, (blora-ekspres.com) – Pengurus Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) dan petani tebu Kabupaten Blora kini berada dalam fase penantian yang menegangkan. Mereka menunggu jawaban tertulis dari Direktur Utama Perum Bulog terkait petisi yang disampaikan dalam aksi damai di Alun-alun Blora, Kamis (02/04/2026) lalu.

Dalam aksi tersebut, petani menyuarakan tiga tuntutan utama yang harus dijawab paling lambat Jumat (10/4/2026).

Ketua APTRI Blora, Sunoto, menegaskan bahwa batas waktu tersebut menjadi titik krusial bagi petani.

“Kalau sampai tenggat 10 April tidak ada jawaban tertulis, kami siap berangkat ke Jakarta dengan massa yang lebih besar,” tegasnya dalam rapat internal pengurus.

Situasi ini semakin menghangat karena pada saat aksi berlangsung, Bupati Blora Arief Rohman dan Wakil Bupati Sri Setyorini sedang bertugas di Jakarta, sehingga aspirasi petani diterima oleh Sekda Blora.

Menanggapi situasi yang mulai memanas, Bupati Arief Rohman mengambil langkah cepat dengan langsung bertolak ke Jakarta untuk mengawal aspirasi petani tebu ke kantor pusat Perum Bulog.

Di hadapan jajaran direksi Bulog, Bupati menegaskan pentingnya kepastian nasib petani dan keberlanjutan Pabrik Gula GMM.

“Saya datang langsung ke Perum Bulog untuk menyampaikan aspirasi petani. Kami minta agar tebu petani terserap optimal dan revitalisasi PG GMM benar-benar berjalan, termasuk perbaikan mesin dan pembenahan manajemen,” ujar Arief.

Ia juga memastikan bahwa pemerintah daerah tidak akan berhenti pada komunikasi formal semata.

“Kami sudah menyerahkan surat dan petisi petani. Bulog juga meminta pendataan riil tebu siap panen bersama APTRI dan dinas terkait. Ini akan kita kawal sampai tuntas,” lanjutnya.

Di tengah dinamika tersebut, situasi di akar rumput semakin menghangat. APTRI bersama sejumlah tokoh petani bahkan mulai menyiapkan langkah lanjutan jika tidak ada jawaban sesuai tenggat waktu.

Sekretaris APTRI, Anton Sudibyo, menegaskan bahwa tiga tuntutan petani bersifat final.

“Tiga tuntutan ini harga mati. Tidak bisa ditawar,” tegasnya.

Sementara itu, tokoh petani yang dikenal sebagai “Srikandi Tebu” Blora, Wahyu, membakar semangat massa dengan seruan keras yang menggugah.

“Rawe-rawe rantas, malang-malang putung. Pantang menyerah sampai titik darah penghabisan. Petisi petani harus dipenuhi Bulog. Merdeka!” serunya penuh semangat.

Di sisi lain, Bupati Arief juga dijadwalkan menggelar pertemuan lanjutan dengan berbagai pihak di Pendopo Rumah Dinas untuk mencari solusi bersama, sementara APTRI merencanakan pertemuan informal dengan aparat keamanan guna menjaga situasi tetap kondusif.***