BLORA, (blora-ekspres.com) – Dinas Kepemudaan dan Olahraga Provinsi Jawa Tengah (Dispora Jateng) terus menggencarkan gerakan hidup sehat masyarakat melalui kegiatan Indeks Pembangunan Olahraga (IPO) 2026. Pengukuran IPO tersebut digelar di Lapangan Desa Trembulrejo, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Blora, Kamis (20/08/2026).
Kegiatan ini mendapat pendampingan langsung dari Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Kabupaten Blora. Pendampingan dilakukan untuk memastikan seluruh tahapan pengukuran berjalan sesuai pedoman serta standar yang telah ditetapkan.
Sebanyak 30 peserta dilibatkan dalam pengukuran tersebut. Mereka berasal dari beberapa kelompok usia, yakni empat peserta berusia 10-15 tahun, 10 peserta usia 16-30 tahun, 10 peserta usia 31-45 tahun, serta enam peserta usia 46-60 tahun.
Kepala Bidang Pemuda dan Olahraga Dinporabudpar Kabupaten Blora, Susilo, mengatakan kegiatan IPO menjadi salah satu upaya untuk mengetahui kondisi pembangunan olahraga di tengah masyarakat secara lebih terukur.
“Pengukuran ini penting untuk melihat sejauh mana aktivitas olahraga sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Data yang diperoleh nantinya dapat menjadi bahan evaluasi dan dasar dalam menentukan program olahraga ke depan,” ujar Susilo saat di temui media ini di lapangan.
Menurut Susilo, IPO tidak hanya berbicara mengenai aktivitas olahraga, tetapi mencakup sejumlah aspek yang lebih luas. Di antaranya kualitas sumber daya manusia di bidang olahraga, literasi fisik, tingkat kebugaran masyarakat, hingga dampak sosial dan ekonomi yang ditimbulkan dari aktivitas olahraga.
Susilo menjelaskan, hasil pengukuran diharapkan mampu memberikan gambaran nyata mengenai kondisi masyarakat, khususnya berkaitan dengan kebiasaan berolahraga dan tingkat kebugaran pada berbagai kelompok usia.
“Harapannya, masyarakat semakin sadar bahwa olahraga bukan hanya untuk prestasi, tetapi juga bagian dari kebutuhan sehari-hari. Dengan masyarakat yang aktif bergerak, risiko penyakit dapat ditekan dan kualitas hidup bisa meningkat,” kata Susilo.
Upaya meningkatkan minat masyarakat terhadap olahraga juga dilakukan melalui berbagai kompetisi. Cabang olahraga yang dipertandingkan setiap tahun dibuat bervariasi sehingga masyarakat memiliki lebih banyak pilihan untuk berpartisipasi dan tidak terpaku pada satu jenis olahraga.
Langkah tersebut dinilai penting mengingat tingkat partisipasi masyarakat dalam aktivitas olahraga masih perlu terus ditingkatkan. Karena itu, program IPO diharapkan tidak berhenti pada pengumpulan data, tetapi menjadi pijakan untuk memperkuat kebijakan dan program olahraga yang lebih tepat sasaran.
“Kalau masyarakat semakin aktif berolahraga, tentu dampaknya bukan hanya pada kebugaran. Ada manfaat sosial, kesehatan, bahkan ekonomi. Karena itu, budaya olahraga harus dibangun secara konsisten,” tutur Susilo.
Pelaksanaan IPO 2026 di Trembulrejo menjadi bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam membangun budaya olahraga yang sehat, aktif, dan berprestasi. Pengukuran yang melibatkan berbagai kelompok usia juga diharapkan memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai kondisi olahraga masyarakat.
Meski pelaksanaan pengukuran masih dilakukan secara terbatas di satu desa sebagai lokasi percontohan, hasilnya diharapkan dapat menjadi fondasi untuk pengembangan program IPO di wilayah lain pada tahun-tahun berikutnya.
Dengan demikian, IPO tidak sekadar menjadi kegiatan pengukuran, tetapi diharapkan mampu menjadi instrumen untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat menuju pola hidup yang lebih aktif, sehat, dan berkualitas.
“IPO ini bukan sekadar mengukur kondisi olahraga masyarakat, tetapi menjadi pijakan untuk membangun budaya olahraga yang sehat, aktif, dan berprestasi. Trembulrejo kami jadikan langkah awal, dan hasilnya diharapkan bisa menjadi dasar pengembangan program serupa di wilayah lain. Target akhirnya jelas, masyarakat semakin aktif bergerak, sehat, dan kualitas hidupnya meningkat,” pungkas Susilo.***











