BLORA, (blora-ekspres.com) — Karnaval Desa Plumbon, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Blora, dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2026, berlangsung meriah. Salah satu penampilan yang mencuri perhatian masyarakat adalah aksi teatrikal Konflik Cinta Minak Jinggo dengan Dyah Kencono Wungu yang diperagakan siswa SD Negeri Plumbon.
Dengan balutan nuansa budaya Banyuwangi, para siswa menampilkan perpaduan teatrikal dan tarian Gandrung Banyuwangi. Kehadiran sosok Ratu Kencanawungu di tengah arak-arakan menjadi daya tarik tersendiri bagi warga yang menyaksikan karnaval di sepanjang rute.
Guru pendamping SD Negeri Plumbon, Wawan, mengatakan penampilan tersebut tidak sekadar ditujukan untuk memeriahkan karnaval, tetapi juga menjadi sarana mengenalkan budaya Banyuwangi kepada para siswa.
“Teatrikal ini bernuansa Banyuwangi dengan tarian Gandrung Banyuwangi. Tujuannya untuk mengenalkan lebih jauh kisah dan cerita asal-usul Gandrung Banyuwangi, agar anak-anak lebih memahami kisah dan cerita Banyuwangi yang sebenarnya,” ujar Wawan usai karnaval, Selasa (25/08/2026).
Menurut Wawan, keterlibatan siswa dalam pawai menjadi ruang pembelajaran yang berbeda. Anak-anak tidak hanya mengenal budaya melalui buku atau materi pembelajaran di kelas, tetapi juga mengalaminya secara langsung melalui seni pertunjukan.
Lebih lanjut, Wawn menegaskan, budaya harus diperkenalkan dengan cara yang dekat dengan kehidupan generasi muda.
“Budaya bukan sekadar cerita di buku sejarah. Budaya harus kita hidupkan, kita tampilkan, dan kita wariskan kepada generasi berikutnya,” tegas Wawan.
Penampilan para siswa sepanjang rute karnaval pun menjadi bagian dari atraksi yang menarik perhatian masyarakat. Seni pertunjukan digunakan sebagai medium untuk membawa cerita tradisional keluar dari ruang pembelajaran dan menghadirkannya di tengah ruang publik.
Bagi para siswa, keterlibatan dalam karnaval juga memberikan pengalaman dalam mengembangkan kreativitas dan kemampuan bekerja sama. Mereka dituntut mempersiapkan peran, gerakan tari, kostum, hingga membangun kekompakan sebagai satu kelompok pertunjukan.
Lebih dari sekadar hiburan, teatrikal Minak Jinggo dan Dyah Kencono Wungu menunjukkan bahwa kegiatan sekolah dapat beririsan langsung dengan ruang budaya masyarakat. Para siswa diberi kesempatan untuk menjadi pelaku, bukan hanya penonton, dalam upaya mengenal dan menampilkan warisan seni budaya.
Dalam konteks peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Karnaval Desa Plumbon akhirnya tidak hanya menjadi agenda seremonial. Pawai tersebut berkembang menjadi ruang ekspresi bagi generasi muda untuk berkreasi sekaligus memperkenalkan kembali cerita dan kesenian tradisional kepada masyarakat.
Penampilan SD Negeri Plumbon menjadi salah satu gambaran bahwa semangat kemerdekaan juga dapat diwujudkan melalui pelestarian budaya. Di tangan para siswa, cerita tentang tokoh dan kesenian masa lalu kembali hadir, bergerak di tengah masyarakat, dan menemukan penonton baru dari generasi sekarang.***











