Berita

Dampak Efisiensi, Tiga Embung di Blora Batal Dibangun

×

Dampak Efisiensi, Tiga Embung di Blora Batal Dibangun

Sebarkan artikel ini

BLORA, (blora-ekspres.com) – Rencana pembangunan tiga embung di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, batal direalisasikan pada 2026 setelah anggaran bantuan keuangan Pemerintah Provinsi (Bankeuprov) Jawa Tengah sekitar Rp9 miliar terkena efisiensi atau refocusing. Padahal, proyek tersebut diproyeksikan mendukung pengairan 191 hektare lahan pertanian di tiga desa.

Tiga embung yang direncanakan dibangun berada di Desa Temulus dan Desa Wulung, Kecamatan Randublatung, serta Desa Adirejo, Kecamatan Tunjungan. Pembatalan alokasi anggaran tersebut membuat rencana penambahan tampungan air untuk mendukung pertanian harus kembali diperjuangkan pada tahun anggaran berikutnya.

Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) DPUPR Blora, Surat, mengatakan pihaknya telah mengusulkan pembangunan ketiga embung tersebut sejak awal tahun. Namun, pada Juni 2026, pihaknya menerima informasi bahwa anggaran yang diajukan terkena efisiensi.

“Kami mendapat informasi melalui surat dari Sekda Provinsi Jawa Tengah bahwa anggaran untuk ketiga embung tersebut terkena efisiensi atau refocusing untuk membiayai infrastruktur lainnya,” kata Surat, Rabu (14/10/2026).

Surat menjelaskan, Pemerintah Kabupaten Blora akan kembali mengupayakan bantuan anggaran untuk pembangunan atau rehabilitasi tampungan air tersebut secara bertahap mulai 2027 hingga 2028.

“Karena tahun ini usulan kami tidak mendapatkan alokasi anggaran, kami akan mengupayakannya kembali pada 2027 dan secara bertahap sampai 2028 maupun tahun berikutnya,” jelas Surat.

Surat menyebutkan, dari tiga embung yang direncanakan, Embung Temulus memiliki cakupan layanan terbesar, yakni sekitar 140 hektare sawah. Sementara itu, Embung Wulung diproyeksikan mengairi 31 hektare dan Embung Adirejo sekitar 20 hektare lahan pertanian.

Dengan total cakupan 191 hektare, keberadaan ketiga embung tersebut diharapkan dapat membantu petani memperoleh pasokan air, terutama ketika hujan mulai berkurang dan musim kemarau tiba.

Menurut Surat, penambahan tampungan air menjadi salah satu kebutuhan penting bagi Blora yang kerap menghadapi persoalan kekeringan. Air hujan yang tertampung pada musim penghujan dapat dimanfaatkan kembali untuk memenuhi kebutuhan saat musim kemarau.

“Dengan semakin banyak tampungan air, kami berharap air hujan bisa ditahan saat musim penghujan, kemudian dioptimalkan ketika musim kemarau untuk memenuhi kebutuhan pertanian, air baku, dan air bersih masyarakat,” ujar Surat.

Surat menjelaskan, Blora saat ini memiliki tiga waduk yang beroperasi, yakni Waduk Randugunting, Waduk Greneng, dan Waduk Tempuran. Selain itu, terdapat 78 embung yang tersebar di berbagai wilayah kabupaten.

Namun, sebagian besar embung mengalami kekeringan setelah memasuki musim kemarau. Bahkan, sejumlah tampungan air telah mencapai level tampungan mati sehingga pemanfaatannya menjadi terbatas.

“Sejumlah tampungan berada dalam kondisi kritis. Air yang masih tersedia perlu dimanfaatkan seoptimal mungkin oleh masyarakat, baik untuk irigasi pertanian maupun kebutuhan air baku,” terang Surat.

Meski demikian, pemanfaatan sisa air harus mempertimbangkan kapasitas efektif tampungan dan kondisi infrastruktur. Sejumlah embung maupun waduk juga membutuhkan pemeliharaan serta penguatan konstruksi agar dapat berfungsi secara optimal.

DPUPR Blora berharap datangnya musim hujan dapat menjadi kesempatan untuk mengisi kembali tampungan air yang tersedia. Berdasarkan prediksi BMKG yang disampaikan dalam wawancara, musim hujan diperkirakan mulai pada awal November 2026.

Pihaknya juga mendorong optimalisasi fungsi embung, bendung, dan waduk agar mampu menampung limpasan air hujan secara maksimal. Selain untuk memenuhi kebutuhan irigasi dan air baku, tampungan tersebut diharapkan mendukung upaya mitigasi serta pengendalian banjir.

“Kami memprioritaskan optimalisasi tampungan air agar kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi. Embung, bendung, maupun waduk diharapkan mampu menampung limpasan air hujan secara maksimal sehingga manfaatnya bisa dirasakan saat musim kemarau,” tandas Surat.*** (Ely/Dinkominfo)