Berita

Merti Kayon Blora 2026, Upaya Merawat Warisan Alam dan Budaya

×

Merti Kayon Blora 2026, Upaya Merawat Warisan Alam dan Budaya

Sebarkan artikel ini

BLORA, (blora-ekspres.com) – Sebanyak 10 pohon utama ditetapkan dalam Merti Kayon Blora 2026 setelah dewan juri menyeleksi dokumentasi dari 38 peserta yang mengangkat pohon-pohon bernilai ekologis, sejarah, budaya, dan tradisi di Kabupaten Blora. Penetapan ini menjadi upaya mengenali kekayaan alam sekaligus merawat cerita dan pengetahuan lokal yang hidup di tengah masyarakat.

Pengumpulan data peserta ditutup pada Sabtu (10/10/2026). Peserta berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari perseorangan, pelajar, kelompok warga, karang taruna, hingga komunitas dan kelompok sadar wisata (Pokdarwis).

Salah satu dewan juri sekaligus kurator, Eko Arifianto, mengatakan proses seleksi berlangsung ketat karena setiap peserta mengangkat pohon dengan karakteristik dan cerita yang berbeda.

“Semua karya peserta bagus. Kami sebagai dewan juri hampir kebingungan memilih karena masing-masing memiliki keunikan dan nilai tersendiri. Namun, kami tetap harus menetapkan 10 pohon utama Merti Kayon Blora 2026 berdasarkan hasil penilaian,” ungkap Eko, Rabu (14/10/2026).

Menurutnya, dokumentasi peserta menjangkau sejumlah wilayah, antara lain Cepu, Kedungtuban, Jati, Blora, Kunduran, Jepon, Tunjungan, Banjarejo, Kradenan, hingga Todanan.

Pohon-pohon tersebut berada di berbagai ruang kehidupan masyarakat, mulai dari kawasan sendang, makam, pasar tradisional, situs bersejarah, hingga lingkungan permukiman dan pedesaan. Keberadaannya tidak hanya penting bagi ekosistem, tetapi juga menyimpan kisah sejarah, tradisi, dan ingatan kolektif masyarakat.

Eko menjelaskan, dewan juri dan kurator menggunakan lima aspek utama untuk menilai setiap karya. Aspek tersebut meliputi profil pohon, termasuk tinggi, lingkar batang, perkiraan usia, dan karakteristiknya; nilai ekologis dan konservasi; nilai sejarah, budaya, dan tradisi; keunikan dan kelangkaan; serta kualitas foto dan video.

Masing-masing aspek memiliki bobot maksimal 20 poin. Penilaian tersebut digunakan untuk mengapresiasi kelengkapan informasi, kekuatan narasi, nilai penting pohon, serta kualitas dokumentasi yang dikirimkan peserta.

“Penilaian ini kami lakukan untuk mengapresiasi kelengkapan informasi, kekuatan narasi, nilai penting pohon, serta kualitas dokumentasi yang disampaikan peserta,” jelasnya.

Berdasarkan hasil penilaian dewan juri dan kurator, berikut 10 pohon utama Merti Kayon Blora 2026 beserta peserta, lokasi, dan skor yang tercantum dalam daftar hasil penilaian:

Bambang Suprianto — skor 273
Asal peserta: Dusun Sumber, Desa Sumber, Kecamatan Kradenan.
Pohon: Kesambi Sendhang Kaliuloh, Desa Gondel, Kecamatan Kedungtuban.

Nyambung Roso Mahbang — skor 266
Asal peserta: Tempellemahbang, Kecamatan Jepon.
Pohon: Kepoh Sendang Mahbang, Kecamatan Jepon.

Eko Agus Winarno/Pokdarwis Agrokultura Sendhangwungu — skor 265
Asal peserta: Desa Sendhangwungu, Kecamatan Banjarejo.
Pohon: Wungu, Desa Sendhangwungu, Kecamatan Banjarejo.

Inna Washila Kurnianingsih dan Anggun Azmi Rahmawati — skor 263
Asal peserta: Desa Tutup, Kecamatan Tunjungan.
Pohon: Panggang Sendhang Mahbang, Kecamatan Jepon.

Ahmad Mustakim — skor 263
Asal peserta: Desa Galuk, Kecamatan Kedungtuban.
Pohon: Bolu, Desa Galuk, Kecamatan Kedungtuban.

Rohmad Sofyan Ali — skor 262
Asal peserta: Desa Gagaan, Kecamatan Kunduran.
Pohon: Kepuh Brumbung, Desa Gagaan, Kecamatan Kunduran.

Yudha Prie — skor 260
Asal peserta: Kauman, Blora.
Pohon: Trembesi dan Kepoh Sendhang Mojokulon, Desa Banjarejo, Kecamatan Banjarejo.

Dadit Nuary — skor 258
Asal peserta: Desa Tutup, Kecamatan Tunjungan.
Pohon: Pule Kedung Prau, Desa Singonegoro, Kecamatan Jiken.

Pungky — skor 256
Asal peserta: Kedungjenar, Blora.
Pohon: Beringin Tua di Situs Sigitan, dengan keterangan lokasi Desa Bengir dan Desa Keser, Kecamatan Tunjungan.

Sampurno, Jona, dan Fajar — skor 254
Asal peserta: Cepu.
Pohon: Beringin Sepuh, Pasar Ketuwan, Kecamatan Kedungtuban.

Dewan juri dan kurator menyampaikan apresiasi kepada seluruh 38 peserta atas kreativitas dan kepedulian mereka dalam mendokumentasikan pohon-pohon besar di berbagai wilayah Blora melalui foto, video, dan narasi.

Keikutsertaan peserta dari beragam latar belakang menunjukkan bahwa pelestarian alam membutuhkan keterlibatan bersama. Melalui karya yang dikirimkan, peserta turut merekam keberadaan pohon, menghimpun pengetahuan lokal, serta mengangkat cerita yang selama ini diwariskan di tengah masyarakat.

Eko menegaskan, penetapan 10 pohon utama merupakan bentuk apresiasi terhadap karya peserta. Namun, kontribusi terhadap pelestarian alam tidak semata-mata ditentukan oleh peringkat.

“Yang terpenting bukan hanya pohon mana yang terpilih, tetapi bagaimana kegiatan ini membuat masyarakat semakin mengenal dan peduli terhadap pohon di sekitarnya. Pohon memiliki nilai ekologis, sejarah, dan budaya yang perlu dijaga serta diwariskan kepada generasi mendatang,” ujarnya.

Merti Kayon Blora 2026 diharapkan menjadi ruang kolaborasi antara masyarakat, pemerintah desa dan kelurahan, komunitas, pegiat lingkungan, pelaku seni budaya, serta dunia pendidikan untuk memperkuat kesadaran ekologis dan membangun gerakan pelestarian pohon yang berkelanjutan.

Pohon-pohon yang didokumentasikan bukan sekadar bagian dari bentang alam. Keberadaannya dapat menyimpan nilai ekologis, sejarah, budaya, tradisi, serta ingatan kolektif yang perlu dirawat agar tidak hilang seiring perubahan zaman.

Dewan juri dan kurator berharap kegiatan ini tidak berhenti pada penetapan pohon utama, tetapi menjadi langkah awal untuk mendokumentasikan, melindungi, dan merawat pohon-pohon bernilai penting beserta lingkungan dan warisan budaya yang menyertainya.***