Siti Fatimah, Kades Perempuan Dua Periode

BLORA, BE – Siti Fatimah merupakan satu-satunya Kepala Desa (Kades) terpilih periode 2019-2025 di Kabupaten Blora yang digelar secara serentak 4 Agustus 2019 lalu.

Siti Fatimah merupakan istri seorang politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Munawar, SH yang menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Blora periode 2019-2024.

Kali ini, merupakan jabatan dua periode yang akan Siti Fatimah lalui selama enam tahun kepemimpinannya di Desa Jetak, Kecamatan Kunduran, Kabupaten Blora.

Saat ditemui Blora Ekspres di Kantornya, Siti Fatimah mengatakan, tidak menyangka jika dirinya masih diberikan kepercayaan oleh masyarakat Desa Jetak untuk kembali menjabat sebagai Kedes.

Tentunya amanah yang diberikan warga, tidak akan disia-siakan dengan memberikan yang terbaik demi kemajuan pembangunan Desa Jetak.

“Semoga saja kedepannya Desa Jetak bisa lebih maju. Kalau program, saya ingin membangun desa, baik dari segi infrastruktur maupun SDM-nya,” katanya.

Selain itu, Siti Fatimah mengutarakan akan meneruskan program yang sebelumnya sudah berjalan.

Keberhasilan program infrastruktur yang telah dicapai Siti Fatimah dalam memimpin desa Jetak diantaranya, pembangunan jalan kampung, jalan usaha tani (JUT), pembangunan jembatan, perbaikan rumah layak huni serta pembangunan lapangan volly sebagai sarana pengembangan olah raga pemuda Desa Jetak.

Selain itu, perempuan kelahiran 21 april 1978 tersebut juga berhasil membangun sarana pemerintahan. Diantaranya membangun kantar dan balai desa, pembangun klinik desa dan penerangan lampu jalan.

Rencana membangun Desa Jetak, Siti Fatimah kedepan dengan pengembangan BUMDes (Badan Usaha Milik Desa).

Dengan membangun BUMDes bertujuan untuk menggerakkan perekonomian masyarakat. ”Tanpa usaha, tidak mungkin desa bisa mendiri,” ujar Siti.

Tidak hanya itu, Siti Fatimah juga mengaku tidak memiliki trik khusus untuk kembali menjabat sebagai Kades Jetak.

Cara yang lakukan Siti Fatimah hanya melalui pendekatan ke masyarakat dan juga turut mendengarkan tentang keluhan maupun aspirasi masyarakat terkait kebutuhan yang diinginkan.

“Intinya kita jadilah pemimpin yang merakyat dan melayani serta mau mendengarkan aspirasi rakyat,” ungkapnya.

“Contoh sederhana pendekatan yang saya lakukan, kalau misal ada warga saya yang meninggal, langsung saya sambangi ke rumahnya, melalui pendekatan emosional itu membuat kita sebagai pemimpin tidak berjarak dengan masyarakat. Jabatan bagi saya hanya titipan saja,” sambung dia.

Selain itu, kata Siti Fatimah, setiap kali di desanya ada pengajian di masyarakat ia selalu ikut andil.

“Pendekatan seperti itu yang saya lakukan untuk tetap menjaga sosialisasi dengan masyarakat,” bebernya.

Siti Fatimah juga menitip pesan khususnya bagi kaum perempuan, jika punya cita-cita harus diwujudkan, jangan mudah takut dan jangan mudah untuk menyerah.

“Gagal itu bagi saya hal yang biasa, tetapi yang perlu diingat kegagalan adalah awal untuk menuju kesuksesan,” pesannya.***(Ely)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.