BLORA, (blora-ekspres.com) – Ancaman kekeringan mulai membayangi sejumlah wilayah di Kabupaten Blora memasuki puncak musim kemarau. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora pun bergerak cepat dengan meluncurkan program bantuan air bersih bagi masyarakat yang kesulitan mendapatkan pasokan air.
Launching bantuan tersebut dengan ditandai pemecahan kendi sebagai simbol dimulainya distribusi air bersih ke sejumlah desa terdampak digelar di halaman Pendopo Rumah Dinas Bupati Blora, Rabu (12/8/2026).
Tak tanggung-tanggung, total 1.413.000 liter air bersih disiapkan untuk didistribusikan kepada masyarakat. Bantuan tersebut melibatkan sejumlah pihak, mulai dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Palang Merah Indonesia (PMI), BBWS Bengawan Solo, BBWS Pamali Juana, Baznas hingga pihak swasta.
Bupati Blora Arief Rohman mengatakan penanganan kekeringan tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah daerah. Menurutnya, diperlukan sinergi berbagai pihak agar kebutuhan dasar masyarakat, terutama air bersih, tetap terpenuhi selama musim kemarau.
“Penanganan kekeringan ini harus dilakukan secara gotong royong. Pemerintah daerah sudah menyiapkan bantuan, tetapi kami juga membuka ruang seluas-luasnya bagi berbagai pihak untuk ikut membantu masyarakat,” kata Mas Arief, sapaan akrab Bupati Blora.
Mas Arief menjelaskan, Pemkab Blora telah menyiapkan dukungan melalui APBD untuk mengantisipasi dampak kemarau. Langkah tersebut dilakukan karena berdasarkan pengalaman dan pemetaan daerah rawan, sejumlah wilayah Blora memang memiliki tingkat kerawanan kekeringan yang cukup tinggi. Dokumen rencana kontinjensi kekeringan Pemkab Blora juga menempatkan sejumlah kecamatan sebagai wilayah prioritas penanganan saat ancaman kekeringan meningkat.
Adapun distribusi bantuan air bersih tahun ini dilakukan secara lintas instansi. PMI menyiapkan 31 tangki atau 155.000 liter untuk 16 desa di lima kecamatan.
Sementara BPBD menjadi salah satu penopang utama dengan menyiapkan 191 tangki atau 955.000 liter untuk memenuhi kebutuhan warga di 74 desa yang tersebar di 13 kecamatan.
Dukungan juga datang dari BBWS Bengawan Solo sebanyak 61.000 liter untuk 11 desa, BBWS Pamali Juana sebanyak 232.000 liter untuk 40 desa, serta Baznas sebesar 10.000 liter untuk satu desa.
Jika ditotal, bantuan dari berbagai unsur tersebut mencapai 1.413.000 liter air bersih.
Mas Arief menegaskan, distribusi air tidak berhenti pada saat launching. Penyaluran akan dilakukan secara berkelanjutan menyesuaikan kondisi dan kebutuhan masyarakat di lapangan hingga September 2026.
“Yang paling penting adalah bagaimana masyarakat yang terdampak benar-benar mendapatkan air. Distribusi akan terus dilakukan dan kami akan melihat perkembangan di masing-masing wilayah,” ujar Mas Arief.
Pemkab Blora juga mengajak perusahaan, organisasi kemasyarakatan, lembaga sosial, komunitas maupun masyarakat yang memiliki kepedulian untuk ikut berkontribusi. Menurut Mas Arief, semakin banyak pihak yang bergerak, semakin luas pula jangkauan bantuan yang dapat diberikan kepada warga terdampak.
Langkah tersebut sejalan dengan kebijakan Pemkab Blora yang sebelumnya telah mengalokasikan sekitar 1.400 tangki air bersih untuk penanganan kekeringan melalui APBD. Pemkab juga menilai dukungan dari pihak lain tetap diperlukan agar penanganan krisis air dapat berjalan lebih maksimal.
“Ini bentuk kehadiran pemerintah sekaligus sinergi bersama. Kita tidak ingin masyarakat menghadapi kesulitan air sendirian. Karena itu, semua pihak kami ajak untuk bersama-sama membantu,” tegas Mas Arief.
Dengan distribusi yang dilakukan secara bertahap hingga September, Pemkab Blora berharap bantuan tersebut mampu meringankan beban warga sekaligus memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi di tengah ancaman kemarau.
Pemerintah daerah juga meminta masyarakat menggunakan air secara bijak dan melaporkan kondisi wilayah yang mulai mengalami krisis air agar penyaluran bantuan dapat dilakukan secara cepat dan tepat sasaran.***









