BLORA, (blora-ekspres.com) – Sebanyak 44.204 dosis vaksin Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) telah didistribusikan untuk vaksinasi sapi di Kabupaten Blora hingga Oktober 2026. Jumlah tersebut masih di bawah alokasi tahun ini yang mencapai 60.000 dosis, sementara populasi sapi di Blora tercatat sekitar 273.000 ekor.
Kepala Dinas Pangan, Pertanian, Peternakan dan Perikanan (DP4) Kabupaten Blora, Ngaliman, mengatakan vaksinasi menjadi salah satu langkah penting untuk melindungi ternak dari ancaman PMK. Terlebih, Blora memiliki populasi sapi yang besar sehingga upaya pencegahan perlu terus dilakukan.
“Target tahun ini sesuai alokasi Provinsi Jawa Tengah sebanyak 60.000 dosis. Hingga saat ini, distribusi sudah mencapai 44.204 dosis dan tidak ada tambahan alokasi vaksin tahun ini,” ujar Ngaliman, melalui sambungan seluler, Sabtu (17/10/2026).
Dengan demikian, masih terdapat selisih 15.796 dosis dari alokasi yang ditetapkan. Kondisi tersebut membuat optimalisasi distribusi dan pelaksanaan vaksinasi menjadi penting agar alokasi yang tersedia dapat dimanfaatkan secara maksimal.
Ngaliman menjelaskan, populasi sapi di Kabupaten Blora saat ini mencapai sekitar 273.000 ekor dan masih mengalami pertumbuhan setiap tahun. Meski demikian, laju pertambahannya tidak sebesar pada periode sebelumnya.
“Total ada sekitar 273.000 ekor sapi di Kabupaten Blora. Populasinya masih meningkat setiap tahun, tetapi kenaikannya tidak sebanyak dulu,” kata Ngaliman.
Menurut Ngaliman, vaksinasi PMK perlu mendapat perhatian karena risiko penularan penyakit tersebut dapat berlangsung cepat. Besarnya populasi ternak di Blora juga menjadi alasan pentingnya menjaga kesehatan hewan melalui pencegahan, pemantauan kondisi ternak, dan penanganan apabila ditemukan gejala penyakit.
Sapi masih menjadi komoditas peternakan yang paling banyak diminati masyarakat Blora. Setelah sapi, kambing menjadi salah satu ternak yang cukup banyak dipelihara. Sementara itu, ayam umumnya diternakkan di lingkungan rumah tangga sebagai usaha sampingan.
Di luar upaya menjaga kesehatan ternak, DP4 Blora juga mendorong peternak memanfaatkan limbah peternakan agar memiliki nilai ekonomi. Kotoran sapi dan kambing, misalnya, dapat diolah menjadi pupuk organik yang bermanfaat bagi sektor pertanian.
“Sapi masih menjadi ternak yang paling diminati masyarakat Blora, disusul kambing, sedangkan ayam umumnya dipelihara sebagai usaha sampingan. Kami juga mendorong peternak mengolah kotoran sapi dan kambing menjadi pupuk organik agar limbah peternakan memiliki nilai ekonomi sekaligus bermanfaat bagi sektor pertanian,” terang Ngaliman.
Ngaliman mengatakan, pemerintah daerah memberikan pelatihan kepada peternak agar mereka mampu mengolah limbah ternak menjadi produk yang berguna dan bernilai tambah.
“Kotoran sapi dan kambing bisa dikelola menjadi bahan pupuk organik. Kami juga memberikan pelatihan agar peternak mampu memanfaatkan limbah tersebut,” jelas Ngaliman.
Upaya tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat ganda bagi peternak, yakni mendukung kesehatan dan produktivitas usaha peternakan sekaligus mengurangi limbah yang tidak termanfaatkan. Dengan pengelolaan yang tepat, kotoran ternak dapat menjadi sumber pupuk organik untuk mendukung kegiatan pertanian.
Pemkab Blora melalui DP4 pun diharapkan terus mengoptimalkan pelaksanaan vaksinasi sesuai alokasi yang tersedia, sekaligus memperkuat edukasi kepada peternak mengenai pencegahan PMK dan pengelolaan limbah. Langkah tersebut penting untuk menjaga keberlanjutan usaha peternakan yang menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat Blora.
“Kami terus mendorong peternak menjaga kesehatan ternak melalui vaksinasi dan pencegahan PMK, sekaligus memanfaatkan kotoran sapi dan kambing menjadi pupuk organik. Dengan begitu, produktivitas ternak terjaga, limbah memiliki nilai ekonomi, dan manfaatnya dapat dirasakan sektor peternakan maupun pertanian,” pungkas Ngaliman.***(Ely/Dinkominfo)











