Festival Bambangan Cakil 2020. Bukan Sekedar Tontonon, Tapi Untuk Tuntunan dan Tatanan

BLORA, (blora-ekspres.com) – Bengkel Tari Putra Kusuma dari Rembang menjadi penampil pertama Festival Bambangan Cakil 2020 yang digelar di pendopo Kridha Manggala Balai Desa Pengkoljagong Kecamatan Jati, Kabupaten Blora, Senin (21/12/2020).

Selain Bengkel Tari Putra Kusuma dari Rembang, ada dua tim yang tampil hari pertama. Diantaranya Suradhuhita dari Semarang dan Mustika Art dari Surakarta. Dan dua tim.yang menampilkan tari pilihan. Yaitu, Komunitas Triloka Budaya dari Surakarta dan Gendir Penjalin dari Rembang.

Salah satu juri dari Sanggar Tari Sriwedari, Hariyanto mengatakan, Festival Bambangan Cakil 2020 ini, dipastikan tidak hanya sekadar pelaksanaan event yang seringkali dianggap formalitas. Meskipun baru pertama kali, ingin mencari pemenang lomba yang berkualitas.

“Berdasarkan keputusan rapat para juri bersama panitia akan melakukan penilaian lomba berdasarkan lima kriteria. Lima kriteria tersebut mencakup seluruh aspek, mulai dari koreografi, kostum, musikalitas dan sebagainya,” kata Hariyanto saat ditemui blora-ekspres.com di lokasi.

Hariyanto juga membeberkan, lima kriteria aspek yang dinilai itu adalah Wirasa, Wiraga, Wirama, Wirupa dan kreatifitas.

Wiraga, sambung Hariyanto, penilaian berdasarkan pada dasar keterampilan gerak tubuh yang mengekspresikan jiwa penari. Adapun Wirama, adalah penilaian pada aspek pola untuk mencapai gerak yang harmonis (tempo, lenggak lenggok si penari) dan semacamnya. Wirasa, tingkatan penghayatan penjwaan, seperti halnya sikap tegas, lembut, gagah yang diekspresikan baik dalam gerakan maupun mimik muka.

“Adapun Wirupa adalah aspek keserasian antara penampilan, kostum dan tipa’ (musik pengiring). Untuk Penyajian atau penampilan yang dinilai adalah aspek keutuhan tarian secara menyeluruh,” katanya.

Adapun aspek keenam yang menjadi aspek penilaian juri adalah ketepatan waktu. Dalam hal ini juri akan mempertimbangkan apakan peserta yang tampil itu mampu memanfaatkan waktu yang diberikan dalam perlombaan tersebut dengan efektif atau tidak.

Juri yang lain, Warsidi menambahkan, Festival Bambangan Cakil 2020, ini bukan hanya sekedar festival kesenian saja, namun menjadi pembuktian bahwa kepedulian seniman di Kabupaten Blora masih ada.

Ia juga mengungkapkan, Festival Bambangan Cakil 2020 ini tidak hanya sebagai tontonan, tapi juga sebagai tuntunan dan tatanan.

“Tujuan digelarnya Festival Bambangan Cakil 2020 untuk melestarikan seni budaya agar generasi sekarang menyukai dan menganal seni budaya peninggalan para leluhur terdahulu,” tambah Pak Dul, panggilan akrab Warsidi.

Tari Bambangan Cakil, lanjut Pak Dul, salah satu tarian klasik yang berasal dari Jawa, khususnya Jawa Tengah. Dalam ceritanya, tarian ini mengadopsi salah satu adegan dalam cerita pementasan wayang kulit, Perang Kembang.

“Perang Kembang bercerita tentang pertarungan antara ksatria melawan raksasa. Digambarkan ksatria adalah tokoh protagonis yang bersifat lembut dan lemah lembut. Sedangkan raksasa berperan sebagai antagonis yang kasar dan beringas,” terang Pak Dul.

Ksatria yang mewakili kebaikan dan raksasa yang mewakili kejahatan, kisah ini memberikan pesan bahwa pihak yang jahat pasti akan dikalahkan oleh pihak yang baik.

Sementara salah satunya, dari Bengkel Tari Putra Kusuma Rembang, Dewi Subeki mengaku bangga bisa ikut berpartisipasi dalam Festival Bambangan Cakil 2020.

“Bangga sekali bisa membawakan sekaligus juga untuk memperkenalkan tarian, jadi tugas kita sebagai generasi muda untuk tetap melestarikan budaya,” ujarnya.***(Red)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *