Kuda Hitam Pilkada Blora, Siap Beri Kejutan

BLORA, BE – Kehadiran Asisten 2 Bupati Blora, Bidang Ekonomi, Pembangunan dan Kesejahteraan Rakyat, Suryanto dalam bursa Calon Bupati Blora, cukup mengejutkan publik Blora.

Berbagai spekulasi dan analisa kemunculannya disaat – saat terakhir penjaringan calon melalui DPD PDIP Jawa Tengah, banyak diperbincangkan berbagai kalangan.

Saat ditemui media di Ruang kerjanya, Suryanto membenarkan langkahnya untuk ikut bertarung dalam perebutan rekomendasi dari Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (DPP PDIP), Megawati Soekarnoputri, agar diusung menjadi Calon Bupati Blora.

Keseriusannya dibuktikan dengan kehadirannya untuk mengikuti fit and proper test yang diselenggarakan oleh DPD PDIP Jawa Tengah di Semarang (20/12/2019) yang telah lalu.

“Saya benar-benar serius untuk maju di Pilkada Blora ini, bukan karena kehendak pribadi. Namun, banyak dorongan teman organisasi, masyarakat dan tokoh Ulama Blora,” kata Suryanto saat ditemui Medi di ruang kerjanya, Selasa (07/01/2020) kemarin.

Mungkin, lanjut Suryanto, merake menggap saya memahami benar kondisi dan karakter warga Blora. “Pertimbangan mereka, mungkin pengalaman kerja saya di Pemerintahan Kabupaten Blora sebagai birokrat yang saya awali dari bawah,” ujarnya.

Selain, pengalamannya sebagai Pejabat birokrasi Blora, Suryanto juga mengaku bahwa keluarga besarnya adalah tokoh dari Partai Nasional Indonesia (PNI) yang dipimpin oleh Presiden Pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno sekaligus founding father kita, ayahanda Ketua Umum DPP PDIP, Megawati Soekarnoputri.

“Bapak saya dulu tokoh PNI dan guru di Sekolah SPG. Itu juga sudah saya sampaikan pada penguji Fit and Proper Test pada saat menjawab latar belakang mendaftar melalui Partai Banteng Mencereng ini,” terang Suryanto.

Selain, Suryanto mengaku memiliki darah dan ideologi politik banteng. Ia juga mengaku optimis mampu mengemban amanah dari platform Partai PDIP, sebagai “Partainya Wong Cilik”.

“Pengalaman saya di berbagai wilayah sebagai ASN, di Pemerintahan (Camat), beberapa kali Ketua Ormas, Yayasan Keagamaan dan Majelis Ta’lim. Termasuk komunikasi yang baik dengan tokoh politik di Blora ini yang menjadi modal saya, memiliki jaringan dan dukungan untuk maju di Pilkada,” ucapnya.

Saya ingin meneruskan estafet Blora ini, semakin baik,” tandasnya.

Saat dikonfirmasi terkait kesiapan mental dan finansial untuk pemenangan Pilkada tersebut, Ketua Yayasan Sunan Pojok itu menjawab, telah siap lahir batin.

“Jaringan telah siap, finansial untuk pemenangan juga sudah siap. Tinggal digerakkan, meskipun belum ada gambar sosialisasi saya,” ungkapnya.

Meski demikian, Suryanto mengaku sudah membentuk tim disetiap desa. Kami telah membentuk tim disetiap desa. Bahkan ada beberapa yang telah datang menemui saya dan menyatakan siap mendukung meskipun belum deklarasi.

“Saat ini saya masih menunggu hasil rekomendasi PDIP, tapi saya sudah menyiapkan plan (rencana) dengan resiko bila tidak mendapatkan rekom dari PDIP. Karena banyaknya kompetitor,” tambah Suryanto.

“Kita tahu, ada 17 calon kandidat, kita harus punya rencana cadangan, komunikasi dengan beberapa Pimpinan Partai sudah intensif kita lakukan, apapun kondisinya kita tetap siap,” tambahnya kembali.

Dari komunikasi politik baik dengan calon kandidat lain maupun tokoh politik lain, Suryanto menyampaikan segala kemungkinan bisa terjadi.

“Misalnya, Abdullah Aminuddin. Beliau politisi yang matang, finansial juga siap, dan punya gagasan pembangunan ekonomi untuk masyarakat Blora,” ujarnya.

Saya dengan Pak Abdullah Aminuddin, lanjut Suryanto, sudah terjalin lama kita komunikasi dan beberapa kali kita diskusi bersama.

“Dari hasil diskusi kami, muncul beberapa perhitungan spikulasi. Segala kemungkinan bisa saja terjadi,” katanya.

Jika mendapatkan rekom dari PDIP, Suryanto mengitung akan ada 21 kursi dari beberapa partai. Minus Partai Golkar. Jika tanpa PDIP, maka sudah ada 12 kursi, ditambah nanti kita ajak Golkar.

“Ya, itu hanya hasil komunikasi dan berdiskusi biasa saja bersama pimpinan partai lain, kita belum berbuat banyak. Saya tidak bisa berandai – andai, karena kita semua masih menunggu hasil dari PDIP nanti,” ujarnya.

Bila kita cermati, peran poros lain dari berbagai “Partai Bawah”, tentunya juga tidak bisa disepelekan. Ketokohan Suryanto sebagai birokrat ulung jelas memiliki kans dan penilaian yang positif dari warga Blora.

Sementara Abdullah Aminuddin, memiliki pengalaman di Partai Politik dan juga sebagai mantan Anggota DPRD dari PKB (2009 – 2019), Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Kabupaten Blora, Ketua Kamar Dagang Indonesia (Kadin),Blora, dan Ketua Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Blora, merupakan bagian dari sumbangsih positif yang dirasakan oleh masyarakat Blora. Semua itu bisa menjadi pertimbangan pemilih sebagai alternatif dukungannya.

Poros Abdullah Aminuddin-Suryanto jika benar terjadi, bisa menjadi kuda hitam, kejenuhan politik di kota migas dan kayu jati terbaik di dunia yang kini, bisa jadi tinggal cerita.***(RME/Ely)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.