BLORA, (blora-ekspres.com) – Kekeringan panjang mulai menggerus fungsi Waduk Tempuran, Kabupaten Blora. Tak diguyur hujan sejak Mei, volume air waduk menyusut drastis hingga membuat saluran irigasi untuk sawah petani berhenti beroperasi.
Pantauan di lapangan menunjukkan kondisi Waduk Tempuran di bagian selatan sudah sangat menyusut. Dasar waduk mulai terlihat, sementara air hanya tersisa di sejumlah cekungan.
Kondisi tersebut dimanfaatkan sebagian warga untuk mencari ikan di genangan yang masih tersisa.
Bagian Operasi Waduk Tempuran, Giyono, mengatakan penurunan volume air terjadi cukup drastis akibat tidak adanya hujan dalam beberapa bulan terakhir.
“Saat ini elevasi air berada di 113,6 meter di atas permukaan laut (mdpl), dengan volume sekitar 9.116,8 meter kubik,” kata Giyono, Kamis (01/10/2026).
Menurutnya, angka tersebut jauh di bawah kapasitas maksimal Waduk Tempuran yang dalam kondisi normal mampu menampung sekitar 1,7 juta meter kubik air.
“Ini sudah rendah sekali karena tidak ada hujan sejak bulan Mei,” ujarnya.
Dampak paling nyata dari menyusutnya air waduk adalah terhentinya layanan irigasi teknis. Sawah petani yang selama ini mengandalkan pasokan dari Waduk Tempuran kini tidak lagi mendapat aliran air.
“Saat ini sudah tidak melayani irigasi karena volume air sangat terbatas,” tegasnya.
Giyono menjelaskan, dalam kondisi normal, pengairan sawah dilakukan berdasarkan usulan petani kepada pengelola waduk. Setelah usulan diterima, pengelola mengatur pelepasan air sesuai kebutuhan dan ketersediaan.
Saat ini, Waduk Tempuran tercatat melayani jaringan irigasi untuk sekitar 420 hektare lahan pertanian. Luasan tersebut, kata Giyono, sebenarnya sudah menyusut dibandingkan kapasitas layanan pada masa sebelumnya.
“Dulu bisa melayani irigasi hingga 820 hektare lahan,” jelasnya.
Dengan kondisi air yang terus menipis, keberlanjutan pengairan sawah kini sangat bergantung pada datangnya hujan dan pemulihan volume Waduk Tempuran.***











