Berita

Blora Tempati Peringkat Ketiga Indeks Literasi Jawa Tengah

×

Blora Tempati Peringkat Ketiga Indeks Literasi Jawa Tengah

Sebarkan artikel ini

BLORA, (blora-ekspres.com) – Kabupaten Blora berhasil menempati peringkat ketiga daerah dengan indeks literasi tertinggi di Jawa Tengah dengan skor 74,37 persen. Capaian ini menjadi modal sekaligus tantangan bagi pemerintah daerah untuk memperluas budaya membaca hingga ke pelosok desa.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kabupaten Blora, Mohamad Toha Mustafa, mengatakan capaian tersebut tidak lepas dari sejarah panjang literasi di Blora. Daerah ini memiliki sejumlah tokoh yang dikenal luas melalui karya dan pemikirannya, di antaranya Pramoedya Ananta Toer dan Tirto Adhi Soerjo.

Keduanya menjadi bagian penting dari jejak sejarah literasi Blora yang diharapkan dapat menginspirasi generasi muda untuk terus mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berpikir kritis.

“Blora memiliki sejarah literasi yang kuat. Tokoh seperti Pramoedya Ananta Toer dan Tirto Adhi Soerjo menjadi inspirasi agar generasi muda terus mengembangkan tradisi membaca dan berkarya,” ujar Toha, Senin (02/11/2026).

Untuk mempertahankan sekaligus meningkatkan capaian tersebut, DPK Blora terus memperluas gerakan literasi dengan melibatkan masyarakat mulai tingkat kabupaten, kecamatan, hingga desa dan kelurahan.

Salah satu program yang dikembangkan adalah pengukuhan Bunda Literasi di tingkat desa dan kelurahan. Sebanyak 295 desa/kelurahan di Blora didorong memiliki Bunda Literasi yang berperan sebagai penggerak sekaligus pengajak masyarakat untuk membangun kebiasaan membaca.

Program tersebut mendapat apresiasi dari Perpustakaan Nasional karena dinilai menjadi langkah strategis dalam memperkuat budaya literasi berbasis masyarakat.

Toha menyebut gerakan tersebut mulai berjalan di sejumlah wilayah, salah satunya Desa Balong, Kecamatan Kunduran.

“Kami terus mengajak masyarakat membangun budaya literasi dari lingkungan terdekat. Desa Balong, Kecamatan Kunduran, menjadi salah satu contoh yang sudah mulai berjalan,” jelas Toha.

Selain Bunda Literasi, DPK Blora juga mengembangkan program Duta Baca Desa yang menyasar seluruh desa dan kelurahan. Para duta baca diharapkan menjadi motor penggerak kegiatan literasi sekaligus mengajak masyarakat, khususnya anak-anak dan generasi muda, agar lebih dekat dengan buku.

Program ini juga melibatkan pelajar tingkat SMP. Kelompok usia tersebut dinilai memiliki potensi besar untuk dibina sejak dini, tidak hanya dalam meningkatkan kemampuan literasi, tetapi juga membangun keberanian berkomunikasi, kepercayaan diri, dan kemampuan berkompetisi.

“Kami ingin anak-anak sejak SMP terbiasa berliterasi, berkomunikasi, dan berkompetisi. Mereka harus lebih berani, percaya diri, serta mampu mengembangkan potensi diri,” ungkap Toha.

Lebih lanjut, Toha menuturkan, melalui pembinaan Bunda Literasi dan Duta Baca, DPK Blora berharap gerakan membaca tidak hanya berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi tumbuh menjadi kebiasaan di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Dalam jangka panjang, upaya tersebut diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak sekadar gemar membaca, tetapi juga kritis, kreatif, produktif, serta mampu melahirkan karya dan gagasan yang bermanfaat.

Blora pun diharapkan tidak hanya mempertahankan posisinya sebagai salah satu daerah dengan indeks literasi tertinggi di Jawa Tengah, tetapi juga kembali melahirkan tokoh-tokoh literasi yang mampu dikenal dan menginspirasi hingga tingkat nasional maupun internasional.

“Melalui Bunda Literasi dan Duta Baca, kami ingin budaya membaca tumbuh menjadi kebiasaan masyarakat, bukan sekadar kegiatan seremonial. Harapannya, lahir generasi yang kritis, kreatif, produktif, dan mampu berprestasi hingga tingkat nasional maupun internasional,” pungkas Toha. ***(Adv/Ely/Dinkominfo)